Halaman

Khamis, 2 September 2010

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa


kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari

genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan

yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah

berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan

nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.



Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat

terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam

kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan

untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu,

majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada

ketenteraman jiwa.



Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar

berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan

mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak

setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap

yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah

menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak

perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar

bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses,

harus bahagia atau harus-harus yang lain.



Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa

sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya

sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga

kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal

dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya

apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat

kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang

bukan hak kita.



Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu

rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah

sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia

tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris

menghampiri kita, meski kita mati-matian

mengusahakannya.



"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan

(tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah

tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami

menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah

mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)

supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput

dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira

terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah

tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi

membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)



Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.

Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh

kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah

kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya

harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat

mencintainya." Seakan kita jadi yang menentukan

segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya

kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang

terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak

dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah

karena niat kita yang terkotori.



Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari

Allah:



"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat

baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu,

padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui

sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)



Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam

nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang

luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan

bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus

benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan

harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang

Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan

dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di

akhirat kelak.



Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan

milikmu!

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

INFO: CARA BUNUH NYAMUK. Bunuh nyamuk di sekitar rumah versi genius. Cubalah.

Bahan-bahan : • 200 ml air • 50 gram gula merah • 1 gram ragi • botol plastik saiz besar Langkah-langkah: 1. Potong botol plastik ditengah-t...